Lingkaran Mahasiswa
Lingkaran Mahasiswa : Meneropong Sejarah Pergerakan, Potret era
millenial dan eksistensialisme Pendidikan
Mahasiswa adalah tunas yang dilahirkan untuk
menjadi penerus bangsa dalam meregenerasi pemimpin sekarang. Tunas muda yang
terkadang hanya dipandang oleh sebelah mata oleh kalangan masyarakat yang hanya
sebatas mengetahui kondisi umum mahasiswa ketika terjadi gejolak perlawanan terhadap
aksi demo yang dilakukan. Diluar sana, mereka yang hanya memandang mahasiswa
adalah sebuah pembawa kerusuhan yang diekspos oleh media menjadikan dogma
adalah hal yang membawa kerusuhan...
Dan sepenuhnya, pandangan masyarakat yang
diluar sana ialah semestinya mahasiswa itu berprestasi dengan gelar olimpiade, essay
ilmiahnya nya, IPK Cumlaude, dan prestasi-prestasi penemuan yang bermanfaat.
Ya, terkadang masyarakat umum menerjemahkan mahasiswa sebagai suatu harapan
yang berguna bagi masa depan dengan segala prestasi yang didapatinya, agar
kelak menemukan hal yang substansi dan bermanfaat bagi masyarakat umum.
Tapi bagi si subjek Mahasiswa, tentunya memiliki
perspektif yang berbeda dengan hal diatas. Bagaimana tidak, sekarang pendidikan
selaku mahasiswa menjadi hal yang utama dan pertama untuk menjadikan ia sarjana
bergelar dan sebagai penopang tangga untuk mencapai pekjerjaan yang layak di
hidupnya kelak nanti. Hal yang demikian
yang sudah menjadi budaya Indonesia dalam meneropong masa depan untuk secara
hirarki bersaing sebagai manusia yang layak bekerja dan mendapat gaji tinggi
serta hidup yang terjamin.
Hanya segelintir mahasiswa yang memaknai dan
dimaknai sebagai tugasnya dalam melaksanakan Agent of Change dan Control. Menilik
sejarah yang berbagai dekade dalam perjalanan mahasiswa, mari kita
konstektualisasikan dalam beragam pandangan diatas.
1. Pendekatan Historis
Dalam sejarah Indonesia, mahasiswa Indonesia
beserta segala aspek elemen masyarakat lain mampu menjatuhkan dua orde
diktator, orde lama dan orde baru. Dalam Tragedi Tritura pada tahun 1966
dikenal sebagai salah satu peristiwa sejarah paling heroik bagi para mahasiswa
yang dibantu oleh masyarakat umum. Mahasiswa pada saat itu bersatu padu dalam melawan
PKI yang ingin mengganti dasar negara. Klimaks pun terjadi saat mahasiswa
berbondong-bondong menuntut tiga tuntutan rakyat (tritura). Yakni
a. Pembubaran PKI beserta Ormas- Ormasnya
b. Perombakan Kbinet Dwikora
c. Turunkan harga
Kondisi perpolitikan nasional yang semakin memanas
mendorong Bung Karno untuk memberikan tahtanya kepada Soeharto. Terlepas dari
berbagai kontroversi yang terjadi, mahasiswa angkatan '66 telah membuktikan dan
memberikan sumbangsih yang cukup besar terhadap jalan panjang Republik ini
yaitu Mewakili rakyat sebagai penyambung lidah dalam mengawal kisah pergerakan.
Mereka menyatu padukan kolaborasi dengan rakyat yang menjadikan riuh gempitanya
perlawanan saat itu.
Peristiwa sejarah heroik lainnya adalah
Reformasi tahun 1998. Ketika Mahasiswa pada era itu kembali turun ke jalan
untuk menuntut perubahan kepada Presiden Soeharto. Dalam propaganda menyatukan
semua mahasiswa seluruh Indonesia melawan kondisi Korupsi, krisis moneter yang mnyebabkan krisis
ekonomi, dan berbagai macam bentuk penyelewengan kekuasaan (abuse of power)
menjadi alasan utama mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat lainnya untuk
menjatuhkan rezim orde baru. Puncaknya terjadi ketika ribuan bahkan mungkin
puluhan ribu mahasiswa berbondong-bondong menduduki Gedung DPR/MPR. Karena hal
yang demiikan menyebabkan situasi semakin lepas kendali akhirnya, Presiden
Soeharto menyatakan mundur pada bulan Mei tahun 1998.
Sayangnya, pasca tragedi '98 gerakan
mahasiswa seolah mengalami kemunduran yang pesat. Mereka berbeda dalam hal
ideologi dan prinsip, tapi sejatinya organisasi mahasiswa memiliki musuh-musuh
yang sama, dan mereka menopang tugas pokok yang sama dalam menyelesaikan
persolan-persoalan yang menghantui bangsa. Hilangnya Identitas diri , hilangnya
tujuan dalam menyelesaikan persoalan negeri dan menjadi lidah rakyat sudah termakan
oleh zaman yang menjadi prolog diatas.
2. Hilangnya gen kritis
Dalam dunia mahasiswa, Kritis merupakan hal
intim dalam jalannya berfikir seseorang dalam menemukan gagasan, logika, dan
kesimpulan yang menjadi sebuah pernyataan argumentif untuk mendapatkan point
penting pembahasan maupun keluarnya kesimpulan.
Menurut Chance (1986)
mengatakan bahwa berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis fakta,
mencetuskan dan menata gagasan, mempertahankan pendapat, membuat perbandingan,
menarik kesimpulan, mengevaluasi argumen dan memecahkan masalah. Ternyata,
mahasiswa sudah tidak lagi kritis, atau bahasa awamnya mulai muncul benih-benih
apatis. Kita tidak lagi tergerak untuk menelaah dan mengkaji tentang apa-apa
yang terjadi di sekitar kita. Dalam aspek sederhana penempatan posisi mereka
sebagai mahasiswa hilang kendali dengan tidak memperhatikan nilai sosial, kesenjangan
masyarakat, isu lokal maupun dan nasional. Hal sesederhana dalam berinteraksi
dengan masyarakat terkait maslaah problematika yang terjadi, merupakan hal
asing yang dijumpai.
Dengan menyibukan diri untuk
eksis dalam menjalankan sosial media dan memainkan hal hal yang menjadikan kita
apatis. Mall, adalah hal wajib untuk didatangi dengan kebanggan sebagai
mahasiswa tanpa menimbang aspek pandangan yang merugikan rakyat sekitarnya.
Warung kopi merupakan tempat untuk memadu asmara dengan pasangan, memainkan uno/kartu
dengan keseruan yang melegakan yang katanya tugas kampus itu ialah berat. Gadget
dengan spesifikasi tinggi dengan maemainkan game yang membuatnya terhibur dan
bermain bersama teman seperkuliahannya. And
then, Buku sejarah? Pergerakan? Ideologi? Tupoksi mahasiswa? Intraksi
dengan masyarakat? Solusi untuk masalah-masalaah bangsa? Isu lokal dan
nasional?
Asing ditelinga mereka
dengan pembahasan seperti itu dengan segala kesibukan diluar akademik. Diskusi diskusi
mati, warung kopi jadi tempat hiburan yang menunjukan eksistensi mereka dalam
dunia perkuliahan. Adik-adik SMA yang melihat akan hal itu, memberikan dampak
psikis mereka dan mendapatkan dogma secara tak langsung akan kehidupan
mahasiswa merupakan kehidupan yang mengasyikan dengan segala kesenangannya.
Nilai nilai yang menjadi garis besar pendidikan termakan oleh pikiran yang tak
tuntas dalam menggapai hal-hal yang tak terlaksana. Dan kebodohan untuk kita
menjadi pemimpin adalah hal lucu dengan melakukan aktivitas tersebut, karena
termakan oleh alur jalan yang kembali mengulang penjajahan dalam negeri sendiri!!!
3.
Eksistensialisme
a.
Latar belakang Eksistensialisme
Konsep eksistensialisme
dikembangkan oleh ahli filsafat asal Jerman, Martin Heidegger (1889-1976),
merupakan bagian filsafat dan akar metodologinya berasal dari metodologi
fenomenologi yang dikembangkan oleh hussel (1859 – 1938). Kemunculan eksistensialisme
berawal dari ahli filsafat Soren Kierkegaard dan Nietzche. Soren Kierkegaard
ingin menjawab pertanyaan “bagaimanakah aku menjadi seorang diri ?”, dasar
pertanyaan tersebut mengemukakan bahwa kebenaran itu tidak berada pada suatu
system yang umum tetapi berada dalam eksistensi individu yang konkret.
Pandangan tersebut tentunya bukan suatu yang muncul dengan sendirinya,
melainkan sesuatu yang lahir ketika dunia mengalami krisis eksistensial, ketika
manusia melupakan sifat individualisnya. Kierkegaard berusaha untuk menemukan
jawaban untuk pertanyaan tersebut manusia (aku) bisa menjadi individu yang
autentik jika memiliki gairah, keterlibatan, dan komitmen pribadi dalam
kehidupan.
Dari kierkegaard kemudian diteruskan oleh Nitzche (1844-1900), pemikiran
filsafat Nitzche terarah pada upaya melahirkan ide yang bisa menjadi jalan
keluar untuk menjawab pertanyaan filosofisnya, yaitu “bagaimana cara menjadi
manusia unggul (ubbermench)”. Jawabannya adalah manusia bisa menjadi unggul
jika mempunyai keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani.
Sebagai pandangan baru,
filsafat eksistensialisme merupakan filsafat yang secara khusus mendeskripsikan
eksistensial dan pengalaman manusia dengan metodologi fenomenologi atau cara
manusia berada. Eksistensialisme adalah suatu reaksi
terhadap materialism dan idealisme. Pendapat materialism terhadap manusia
adalah manusia merupakan benda dunia, manusia adalah materi, manusia adalah
sesuatu yang ada tanpa menjadi subyek. Pandangan manusia menurut idealisme :
manusia hanya sebagai subyek atau hanya sebagai suatu kesadaran.
Eksistensialisme berkeyakinan situasi manusia selalu berpangkalkan eksistensi
sehingga aliran eksistensialisme penuh dengan lukisan-lukisan yang konkret.
b.
Eksistensialisme dalam Pendidikan
(a) Pengetahuan.
Teori pengetahuan eksistensialisme banyak dipengaruhi oleh filsafat
fenomenologi, suatu pandangan yang menggambarkan penampakan benda-benda dan
peristiwa-peristiwa sebagaimana benda-benda tersebut menampakan dirinya
terhadap kesadaran manusia. Pengetahuna manusia tergantung kepada pemahamannya
tentang realitas, tergantung pada interpretasi manusia terhadap realitas,
pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan sebagai alat untuk memperoleh
pekerjaan atau karir anak, melainkan untuk dapat dijadikan alat perkembangan
dan alat pemenuhan diri. Pelajaran di sekolah akan dijadikan alat untuk
merealisasikan diri, bukan merupakan suatu disiplin yang kaku dimana anak harus
patuh dan tunduk terhadap isi pelajaran tersebut. Biarkanlah pribadi anak
berkembang untuk menemukan kebenaran-kebenaran dalam kebenaran.
(b) Nilai.
Pemahaman eksistensialisme terhadap nilai, menekankan kebebasan dalam
tindakan. Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita-cita dalam dirinya sendiri,
melainkan merupakan suatu potensi untuk suatu tindakan. Manusia memiliki
kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilihan-pilihan di antara
pilihan-pilihan yang terbaik adalah yang paling sukar. Berbuat akan
menghasilkan akibat, dimana seseorang harus menerima akibat-akibat tersebut
sebagai pilihannya. Kebebasan tidak pernah selesai, karena setiap akibat akan
melahirkan kebutuhan untuk pilihan berikutnya. Tindakan moral mungkin dilakukan
untuk moral itu sendiri, dan mungkin juga untuk suatu tujuan. Seseorang harus
berkemampuan untuk menciptakan tujuannya sendiri. Apabila seseorang mengambil
tujuan kelompok atau masyarakat, maka ia harus menjadikan tujuan-tujuan
tersebut sebagai miliknya, sebagai tujuan sendiri, yang harus ia capai dalam
setiap situasi. Jadi, tujuan diperoleh dalam situasi.
(c) Pendidikan.
Eksistensialisme sebagai filsafat sangat menekankan individualitas dan
pemenuhan diri secara pribadi. Setiap individu dipandang sebagai makhluk unik,
dan secara unik pula ia bertanggung jawab terhadap nasibnya. Dalam hubungannya
dengan pendidikan, Sikun Pribadi (1971) mengemukakan bahwa eksistensialisme
berhubungan erat sekali dengan pendidikan, karena keduanya bersinggungan satu
dengan yang lainnya pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup,
hubungan anatar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan. Pusat pembicaraan
eksistensialisme adalah “keberadaan” manusia, sedangkan pendidikan hanya
dilakukan oleh manusia.
Adalah hal yang menyedihkan
ketika hanya belajar dalam pendidikan kelas merupakan hal yang mewah bagi
mahasiswa, tanpa melihat pembelajaran aspek lain dalam menyadarkan mereka akan
tugas yang semestinya mereka emban dalam eranya. Akan terasa gelap masa depan dengan
idealisme mereka akan menjalankan pendidikan sembari menyenangkan diri mereka
tanpa melihat masyarakat yang semesetinya menjadi implementasi mahasiswa
sebagai lidah mereka. Gen kritis yang hilang ialah hal besar yang semestinya
disadari oleh kalangan terdidik. Tunjukan bahwasanya mahasiswa merupakan hal
penting dengan segala ideologinya, prinsip, idealismenya. Lahirkan pemimpin
dengan proses yang menyatukan pemikiran, gerakan, dan mengatasi soal soal aspek
diluar kampus.
Daftar Pustaka
Achmadi. Asmoro.
2009. Filsafat umum. Jakarta. PT. RajaGrafindo Persada.
Bernadib, Imam.
1976. Filsafat pendidikan. Yogyakarta. Karang Malang
Drijarkasa.
2011. Filsafat manusia.Yogyakarta. kanisius.
Gandhi HW, TW. 2011.
Filsafat pendidikan mazhab-mazhab Filsafat pendidikan. Jojakarta. Ar-ruzzmedia.
J. Waluyo.
2007. Pengantar filsafat ilmu (buku Panduan mahasiswa). Salatiga.
Widya Sari.
Sadulloh, Uyoh.
2003. Pengantar Filsafat pendidikan. Bandung: Alfabeta
Komentar
Posting Komentar